
Beberapa waktu lalu ada yang curhat ke saya soal kendala transaksi. Masalahnya klasik tapi bikin frustrasi. Satu-satunya cara buat tahu status transaksi ya harus lihat di block explorer. Nah, masalahnya explorer yang biasa dipakai udah lama down. Jadi mau cek transaksi apa pun, kita cuma bisa pasrah dan berharap semuanya berjalan lancar. Nggak ada alternatif lain. Nggak ada cara lain. Cuma bisa diam dan menunggu.
Dari situ saya iseng kepikiran. Sebenarnya kita bisa kok bikin explorer sendiri, walau kita nggak punya blockchain-nya. Ada namanya Blockscout, proyek open source yang memang dirancang buat jadi block explorer. Tinggal cari repo-nya di GitHub, clone, setup, jalanin. Secara teori sesimpel itu. Secara teori.
Tapi ya itu. Teori dan praktik beda jauh. Dan dari situ saya mulai belajar banyak hal yang sebelumnya nggak pernah kepikiran. Banyak hal yang bikin saya sadar bahwa selama ini saya terlalu menyederhanakan sesuatu yang sebenarnya sangat kompleks.
Blockscout Itu Gratis, Tapi Ada Tapinya
Blockscout ini proyek open source yang bisa dibilang salah satu yang paling matang di kelasnya. Repo frontend-nya ada di github.com/blockscout/frontend dan backend-nya juga tersedia terpisah. Jadi kalau mau bikin explorer sendiri, secara legal dan teknis itu dimungkinkan. Banyak orang sudah melakukannya. Banyak chain kecil dan menengah yang pakai Blockscout sebagai explorer resmi mereka.
Soal lisensi, ada sedikit yang perlu diluruskan supaya nggak salah paham. Blockscout bukan berarti nggak boleh komersial sama sekali. Aturannya lebih ke: kalau kamu pakai buat blockchain sendiri dan diakses gratis publik, ya nggak masalah. Yang butuh lisensi komersial itu kalau kamu jual jasa hosting explorer ke pihak lain, atau kamu monetisasi aksesnya. Dan soal modifikasi, sebenarnya boleh-boleh aja. Asal tetap mencantumkan atribusi “Powered by Blockscout” di antarmuka. Jadi bukan berarti nggak boleh disentuh sama sekali. Kamu bisa ubah warna, ubah logo, ubah menu, sesuai kebutuhan.
Nah, kalau males setup sendiri dan punya budget lebih, ada juga Autoscout di autoscout.blockscout.com. Ini layanan dari Blockscout sendiri yang bakal bantuin kamu deploy explorer secara terkelola. Tinggal bayar, kasih URL RPC, beres. Nggak perlu mikirin server, nggak perlu mikirin maintenance. Tapi harganya? Mulai dari sekitar $349 per bulan. Itu baru paket paling kecil. Belum paket menengah dan besar yang bisa jauh lebih mahal.
Jadi ada dua jalur. Jalur gratis tapi ribet dan butuh modal besar di sisi infrastruktur. Atau jalur berbayar tapi praktis dan tinggal pakai. Dua-duanya punya konsekuensi masing-masing.
Kenapa Explorer yang Tadinya Normal Bisa Tiba-Tiba Down?
Ini pertanyaan yang paling sering muncul. Explorer kemarin masih bisa dibuka, hari ini tiba-tiba error. Halaman blank. Data nggak muncul. Atau malah nggak bisa diakses sama sekali.
Ada banyak penyebab. Tapi kalau saya amati dari berbagai kasus, salah satu pemicu paling umum adalah kegagalan upgrade Docker. Khususnya saat pemilik atau pengelola explorer mencoba naik ke versi Blockscout terbaru.
Kenapa ini sering terjadi? Karena Blockscout terus berkembang. Rilis baru muncul hampir setiap bulan. Ada perbaikan bug, fitur baru, perubahan struktur database, perubahan environment variable. Dan setiap kali ada versi baru, godaan untuk langsung upgrade itu besar. Apalagi kalau ada pengumuman fitur keren di versi terbaru.
Masalahnya, upgrade Blockscout nggak sesederhana docker pull lalu docker compose up. Ada proses migrasi yang harus diikuti. Ada perubahan konfigurasi yang harus disesuaikan. Ada kemungkinan database lama nggak kompatibel dengan versi baru. Dan kalau ada satu langkah saja yang terlewat, sistem bisa rusak. Bukan cuma frontend-nya yang error, tapi bisa jadi seluruh stack.
Blockscout sendiri menyediakan panduan migrasi di docs.blockscout.com/setup/deployment/frontend-migration. Di sana dijelaskan ada tiga jalur migrasi: all-in-one container, separate frontend dan customized backend. Masing-masing punya konsekuensi berbeda. Salah pilih jalur, bisa berabe.
Tapi kenyataannya, dokumentasi itu nggak selalu cukup. Ada kalanya penjelasannya terlalu singkat. Ada kalanya contoh perintahnya nggak cocok dengan kondisi server pengguna. Ada kalanya error yang muncul nggak tercantum di troubleshooting. Dan di sinilah banyak pengelola explorer akhirnya menyerah. Mereka coba upgrade, gagal dan nggak tahu harus bagaimana. Explorer yang tadinya jalan normal akhirnya down total.
Faktor lain yang juga sering jadi penyebab adalah kurangnya skill teknis. Bukan bermaksud merendahkan, tapi menjalankan dan merawat explorer itu memang butuh pemahaman yang cukup dalam soal Docker, jaringan, database dan konfigurasi server. Kalau cuma ikut tutorial tanpa paham konsepnya, begitu ada masalah di luar skenario tutorial, ya bingung.
Belum lagi soal resource. Kadang upgrade butuh resource lebih besar dari yang tersedia. RAM penuh. Storage habis. Proses migrasi database yang memakan waktu berjam-jam akhirnya terhenti di tengah jalan. Dan begitu terhenti, kondisi database bisa jadi nggak konsisten. Ini yang paling parah.
Jadi kalau ada explorer yang tiba-tiba down, jangan langsung nuduh pengelolanya malas atau nggak kompeten. Bisa jadi mereka cuma korban dari kombinasi dokumentasi yang kurang lengkap, skill yang terbatas dan resource yang pas-pasan. Upgrade itu memang risiko. Dan nggak semua orang siap menghadapinya.
Yang Nggak Kelihatan di Permukaan
Ini bagian yang sering terlewat. Orang lihat open source dan gratis, langsung berpikir tinggal download, build, upload, selesai. Kenyataannya, menjalankan Blockscout itu butuh sumber daya yang nggak main-main. Ini bukan proyek yang bisa dijalankan di laptop tua sambil duduk manis ngopi kadang-kadang juga sambil coli.
Pertama, kamu butuh RPC node dari chain yang mau di-explore. Ini adalah pintu masuk untuk membaca semua data on-chain. Tanpa RPC node yang stabil, explorer kamu nggak akan bisa menampilkan apa-apa. RPC node ini punya beban tersendiri. Kalau mau explore chain dengan volume transaksi tinggi, node-nya harus kuat. Kalau nggak, ya explorer-nya bakal lambat, sering error, atau bahkan nggak bisa diakses sama sekali.
Kedua, kamu butuh server. Blockscout backend itu berat. Dokumentasi resminya minta minimal CPU 4-core, RAM 8GB dan SSD 120GB. Itu baru batas minimal. Untuk nyaman, rekomendasinya 8-core, RAM 16GB sampai 32GB. Kalau di laptop pribadi dengan RAM 8GB, menjalankan Docker Compose yang isinya sembilan kontainer, mulai dari database Postgres, Redis, backend Elixir, frontend Next.js, plus empat microservices Rust, itu bisa bikin laptop ngos-ngosan. Bukan cuma lambat. Tapi bisa nggak bisa dipakai buat kerja lain. Fan laptop bakal bunyi kencang terus. Panas. Dan ujung-ujungnya kamu nggak bisa ngapa-ngapain selain nungguin proses yang jalan lambat.
Ketiga, biaya VPS. Kalau mau jalan 24 jam, ya harus sewa VPS. VPS dengan spesifikasi yang layak buat Blockscout itu nggak murah. Belum lagi kalau chain-nya ramai, storage-nya bisa cepat penuh. Dan itu artinya biaya tambahan. Belum lagi bandwidth. Belum lagi backup. Semua ada biayanya. Semua ada konsekuensinya.
Keempat, setup-nya rumit. Ini bukan kayak install WordPress yang tinggal klik-klik. Kamu harus paham Docker, environment variables, konfigurasi database, reverse proxy, SSL dan sebagainya. Dokumentasinya ada. Tapi tetap saja butuh pemahaman teknis yang nggak bisa didapat dalam semalam. Butuh berjam-jam, bahkan berhari-hari, buat benar-benar paham dan bisa troubleshooting kalau ada masalah.
Coba Pikirkan Sebentar
Kita cuma mau lihat status transaksi. Itu doang. Satu transaksi. Satu halaman. Tapi untuk bisa lihat, kita harus:
- Nyewa VPS
- Setup Docker dan semua dependensinya
- Konfigurasi backend Blockscout
- Konfigurasi frontend
- Setup database
- Setup microservices
- Konfigurasi reverse proxy dan SSL
- Maintain semuanya supaya tetap jalan
Dan itu semua cuma buat satu halaman yang menampilkan status transaksi. Rasanya konyol, bukan? Rasanya nggak masuk akal. Tapi itulah kenyataannya.
Tapi di sisi lain, ini jadi pelajaran berharga. Kadang kita baru sadar betapa kompleksnya sesuatu setelah mencoba membangunnya sendiri. Selama ini kita cuma jadi pengguna. Tinggal buka browser, ketik alamat, lihat hasilnya. Nggak pernah kepikiran apa yang terjadi di belakang layar.
Membangun Blockchain Itu Serumit Apa Sih?
Explorer cuma satu bagian kecil dari ekosistem blockchain. Kalau bikin explorer aja serumit dan semahal ini, bayangkan bikin blockchain-nya sendiri. Bayangkan semua lapisan yang harus dibangun, semua komponen yang harus dijaga, semua masalah yang harus diantisipasi.
Untuk membangun blockchain, kamu butuh:
- Node client seperti Geth untuk chain EVM atau implementasi lain. Ini yang jadi jantung jaringan. Ini yang menjaga semua transaksi tetap konsisten. Ini yang memastikan semua node punya data yang sama.
- Konsensus mechanism. Mau pakai Proof of Work? Proof of Stake? Atau varian lain? Masing-masing punya implikasi teknis dan ekonomis yang berbeda. Proof of Work butuh komputasi besar. Proof of Stake butuh mekanisme ekonomi yang matang. Salah pilih, bisa berabe.
- Backend dan API. Ini yang melayani permintaan dari explorer, wallet dan aplikasi lain. Ini yang jadi jembatan antara blockchain dan dunia luar.
- Explorer. Ya, yang tadi kita bahas. Satu komponen yang ternyata sudah sangat kompleks.
- Wallet. Buat pengguna menyimpan dan mengirim aset. Ini juga bukan proyek sederhana. Butuh keamanan tingkat tinggi, UX yang baik dan dukungan multi-platform.
- Infrastruktur. Server, jaringan, keamanan, monitoring. Semua harus dirancang dengan baik. Semua harus dijaga 24 jam.
- Dokumentasi dan dukungan. Buat developer dan pengguna. Tanpa dokumentasi yang baik, developer nggak akan mau bangun di atas chain kamu. Tanpa dukungan yang responsif, pengguna bakal kabur.
Dan itu baru permukaan. Belum lagi soal keamanan, skalabilitas, governance, tokenomics dan komunitas. Membangun blockchain bukan proyek akhir pekan. Ini kerjaan bertahun-tahun yang melibatkan banyak orang dengan keahlian berbeda-beda. Ini proyek yang butuh dedikasi, kesabaran dan sumber daya yang nggak sedikit.
Yang bikin saya sadar: jago desain web belum tentu paham soal ini. Bisa ngoding aplikasi biasa belum tentu bisa ngoding blockchain. Ini domain yang benar-benar butuh spesialisasi. Seorang frontend developer belum tentu paham cara kerja konsensus. Seorang UI designer belum tentu ngerti cara mengindeks transaksi on-chain. Bahkan seorang backend engineer yang biasa bikin API REST belum tentu paham cara berinteraksi dengan smart contract. Semua butuh pembelajaran dan pengalaman yang spesifik.
Jadi, Apa Pelajarannya?
Pertama, jangan remehkan infrastruktur. Hal-hal yang kelihatannya sederhana di permukaan ternyata punya lapisan teknis yang dalam dan mahal di belakangnya. Kita cuma lihat ujung gunung es. Kita nggak lihat bagian yang besar dan berat di bawah permukaan.
Kedua, open source bukan berarti gratis dalam artian bebas biaya. Kode-nya gratis. Tapi menjalankannya butuh sumber daya. Sama seperti resep masakan gratis, tapi bahan-bahannya tetap harus dibeli. Sama seperti buku gratis, tapi waktu buat membacanya tetap harus diluangkan.
Ketiga, hargai pekerjaan di balik layar. Ketika kita bisa dengan mudah cek transaksi di explorer besar, itu karena ada tim yang mengelola infrastruktur besar dan kompleks. Kita tinggal buka browser, ketik alamat, lihat hasilnya. Kita nggak lihat server yang berjalan 24 jam, database yang terus bertambah dan engineer yang siap sedia kalau ada masalah. Kita nggak lihat biaya yang dikeluarkan, keringat yang diteteskan dan pikiran yang dicurahkan.
Keempat, membangun blockchain itu proyek serius. Kalau ada yang bilang gampang, tinggal fork aja, biasanya orang itu belum pernah coba. Forking itu bagian paling mudah. Yang sulit adalah menjaga jaringan tetap hidup, aman dan berkembang. Yang sulit adalah membangun komunitas, mendapatkan kepercayaan dan bertahan dalam jangka panjang.
Nah yang mudah itu kalau mau buat token sendiri baru mudah cukup gunakan tools Crypto Token Generator saja!
Pada Intinya
Kisah explorer yang down dan keinginan buat bikin explorer sendiri ini memang bikin frustrasi. Tapi di sisi lain, ini jadi cermin betapa kompleksnya dunia blockchain di balik kemudahan yang kita rasakan sehari-hari. Kita sering lupa bahwa di balik setiap kemudahan, ada kerja keras yang nggak terlihat.
Kalau ada rekan-rekan yang bermimpi bangun blockchain sendiri, silakan. Tapi siapkan diri untuk belajar banyak hal. Bukan cuma coding, tapi juga infrastruktur, keamanan, ekonomi dan komunitas. Dan siapkan juga budget, karena ini bukan proyek yang murah. Siapkan juga mental, karena ini bukan proyek yang sebentar.
Sementara itu, buat kita yang cuma mau cek transaksi, mungkin lebih baik berharap explorer-nya segera pulih. Atau ya, sabar saja. Karena bikin explorer sendiri ternyata bukan solusi yang bisa diambil. Butuh perencanaan, butuh sumber daya dan butuh kesabaran yang nggak sedikit.